Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Monday, February 13, 2012

MOVIE: PIRATES OF SILICON VALLEY (1999)

Sumber gambar: http://www.listal.com

"We have to think of ourselves as artists. It's like Picasso said GOOD ARTISTS COPY, GREAT ARTISTS STEAL..." (Steve Jobs)

"You know what they say, the mafia... YOU KEEP YOUR FRIENDS CLOSE BUT YOUR ENEMIES CLOSER..." (Bill Gates)

Dua petikan kalimat di atas adalah dua hal yang paling saya ingat di film ini dan pastinya paling bisa menggambarkan siapa saja yang dimaksud sebagai pirates di film ini. Pirates of Silicon Valley merupakan film semidokumenter yang menceritakan awal karir Seteve Jobs (Noah Wyle) dan Bill Gates (Anthony Michael Hall) serta persaingan mereka berdua dalam membesarkan perusahaan mereka masing-masing, Steve Jobs dengan Apple Computer-nya dan Bill Gates dengan Microsoft. Film ini berlatar pada tahun 1970-an hingga tahun 1997. Film yang didasarkan pada buku Fire in the Valley: The Making of The Personal Computer yang ditulis oleh Paul Freiberger and Michael Swaine ini ditayangkan pada tahun 1999 di televisi, sedangkan DVD-nya direlease pada tahun 2005.

Di sini awalnya Steve Jobs dan Bill gates memulai usahanya dari bawah, Jobs bersama temannya di University California Berkeley, Steve Wozniak (Joey Slotnick) adalah orang-orang aneh yang hobi membuat perangkat elektronik untuk sekedar bercanda, mereka akhirnya mendirikan Apple Computer yang berlokasi di garasi. Steve tumbuh dengan membenci IBM, perusahaan komputer terbesar saat itu. Perusahaan kecil ini hampir gagal berkembang saat Wozniak membawa prototype komputer Apple ke HP, tapi untungnya HP tidak menyukai produk tersebut dan Wozniak kembali ke Apple.

Di tempat yang lain Bill Gates dan teman sekelasnya semasa di Harvard, Steve Ballmer (John Di Maggio), dan teman SMA-nya, Paul Allen (Josh Hopkins) mendirikan Microsoft. Gates berambisi memiliki kekuasaan melalui Microsoft. Microsoft saat itu merupakan perusahaan pembuat software, salah satunya adalah software operating system. Bill Gates sangat getol dalam melobi IBM agar bersedia menggunakan DOS, sistem operasi yang bahkan Microsoft sendiri belum memiliknya. DOS ini nantinya akan digunakan untuk semua mesin-mesin/ hardware yang dimiliki IBM, dan untuk itu Bill Gates menuntut royalti. IBM akhirnya setuju karena manurut IBM yang paling penting adalah hardware, bukan software. Microsoft yang sebenarnya belum memiliki DOS ini akhirnya membeli operating system dari suatu perusahaan kecil seharga US $ 50,000 dan di sinilah dinasti Microsoft bermula.

Di sisi lain, Apple diundang untuk melihat produk ciptaan ilmuwan Xerox. Xerox telah mengembangkan mouse dan layar seperti yang kita kenal saat ini, akan tetapi petinggi Xerox malah mengejek produk hasil temuan ilmuwannya tersebut dan mengijinkan Apple melihat prototype mouse, layar, dan bagaimana cara kerjanya (untung aja mesin fotokopi Xerox tuh gak ada mouse-nya ya...hehe). Akhirnya Apple mencuri ide yang dimiliki ilmuwan Xerox.

Bill Gates dengan Microsoft-nya sangat iri dengan perkembangan Apple, saat itu Microsoft masih merupakan perusahaan kecil. Gates mengajak Steve Jobs untuk bekerja sama dalam pengembangan produk. Kelihaian Gates dalam melobi orang ternyata berhasil membuat Jobs bersedia bekerjasama. Jobs terperdaya dan bersedia menyerahkan prototype Apple, yakni Macintosh ke Bill Gates. Bill gates memodifikasi komputer ciptaan Apple dan akhirnya lahirlah Windows seperti yang kita kenal saat ini. Apple akhirnya menyadari kecurangan Bill Gates saat Apple hendak meluncurkan macintosh untuk pertama kalinya. Di sinilah persaingan tahap pertama antara Windows dan Macintosh dimulai. Nah, gimana kelanjutan persaingan mereka ya? Siapa yang akan memenangkan persaingan ini? Silakan tonton sendiri ya...

Film ini menceritakan persaingan Apple dan Microsoft hingga tahun 1997, padahal sepertinya setelah tahun 1997, persaingan tahap kedua di antara mereka dimulai lagi nih... Buktinya persaingan antara komputer berbasis Windows dan komputer berbasis Mac semakin seru. Walaupun saat ini Steve Jobs telah tiada tapi kiprahnya serta kejeniusannya akan tetap terkenang melalui inovasi-inovasinya di Apple, RIP Steve... Wah... wah... kayaknya harus ada sekuelnya nih, Pirates of Silicon Valley 2, pasti lebih seru dan lebih diantisipasi oleh masyarakat pecinta film.

Kedua aktor utama film ini, Noah Wyle dan Anthony Michael Hall bener-bener keren dalam memerankan Steve Jobs dan Bill Gates. Wyle berhasil memerankan karakter Jobs yang sangat amat perfeksionis, idealis, tidak suka ditentang, pemuja seni, dan hidupnya selalu dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual yang dia anut. Dalam kenyataanya, Steve Jobs memuji akting Wyle dalam film ini dan mengundang Wyle untuk membuka pameran komputer Macworld Expo bersama Steve Jobs. Begitu juga dengan Anthony Michael Hall yang berhasil memerankan tokoh Bill Gates yang nerdy, ambisius, agak-agak manipulatif, nekat, tapi ada sisi gilanya juga. Bill gates sangat yakin bahwa nantinya dia akan mempunyai kekuasaan dengan komputer yang dia ciptakan.

Awalnya saya agak meng-underestimate film ini karena udah jadul banget, tapi ternyata saya malah sangat amat menyukai film ini. Film ini bener-bener brilliant, karena saat melihat film ini fokus kita tidak akan tertuju pada sisi jadulnya tapi langsung terfokus pada dua tokohnya yang sangat gila tapi jenius. Film ini merupakan film yang gak akan lekang oleh jaman, kapan pun kita menontonnya, film ini akan tetap menarik untuk diikuti, itulah kenapa DVD-nya baru dirilis tahun 2005 padahal film ini ditayangkan di televisi untuk pertama kalinya pada tahun 1999. Ide penggunaan pemeran Wozniak dan Ballmer sebagai narator serta flashback sangat efektif untuk menceritakan apa yang ingin ditekankan oleh film ini.

Film ini pas banget untuk kalian yang ingin mengetahui sejarah serta persaingan Apple dan Microsoft serta bagaimana persaingan tersebut bisa mengubah cara hidup manusia saat ini. Bayangkan, jika tanpa Steve Jobs dan Bill Gates dan tentunya orang-orang di sekitarnya maka kita tidak akan hidup semudah seperti saat ini. Dunia pendidikan, kesehatan, pers, dll semuanya menjadi semakin maju setelah kita mengenal komputer. Thanks to them...

Nah, buat para komputer mania, adakah dari kalian yang anti banget sama Microsoft? Atau malah ada yang anti banget sama Apple? Well, probably you could be the next Steve Jobs then, inget kan dengan Steve Jobs yang dahulu sangat membenci IBM, suatu perusahaan komputer terbesar pada jamannya (sekarang juga masih eksis sih) dan akhirnya dengan semangat pantang menyerahnya itu Steve Jobs berhasil sukses dengan Apple... :)



MOVIE: POSTMAN TO HEAVEN/ HEAVEN'S POSTMAN/ 천국의 우편배달부 (2009)

Sumber gambar: http://sookyeong.files.wordpress.com

Apakah berbohong itu merupakan perbuatan yang terpuji? Tentu tidak kan... Dan, siapa orang di dunia ini yang mau dibohongi? Ehm... kemungkinan sih gak ada yang mau dibohongin ya... Tapi mungkin akan ada dua pendapat yang berbeda setelah kita menonton film ini, antara menyetujui kebohongan yang ada di film ini, atau bahkan tidak setuju sama sekali.


Film Heaven's Postman bercerita tentang seorang pemuda tampan dan misterius yang bernama Shin Jae Joon (Hero Jaejoong) yang bertugas mengantarkan surat ke 'surga'. Surat-surat ini berasal dari orang-orang yang sangat merindukan orang terdekat mereka yang telah meninggal dan tentu saja surat-surat itu ditujukan kepada mereka yang telah meninggal. Ehm... kok bisa ya? Gini lho, saat seseorang meninggal, terkadang orang-orang yang ditinggalkannya belum sempat menyampaikan sesuatu seperti manyampaikan maaf, terima kasih, atau uneg-uneg/ masalah tertentu kepada mereka yang telah terlanjur meninggal, dan terkadang mereka sangat menderita dalam hidupnya karena belum sempat menyampaikannya. Nah, itulah isi dari surat-surat yang harus diantarkan Jae Joon ke 'surga'.


Saat sedang menjalankan tugasnya, Jae Joon bertemu dengan Joo Ha Na (Han Hyo Joo) yang yang hendak mengirim surat kepada kekasihnya yang telah meninggal. Ha Na sangat penasaran dengan bagaimana cara Jae Joon mengirim surat-surat tersebut ke surga, tapi Jae Joon enggan menjawabnya dan malah mengaku sebagai malaikat, anehnya lagi Jae Joon malah menawarkan pekerjaan kepada Ha Na untuk menjadi asistennya. Awalnya Ha na menolak karena dia meragukan profesi aneh ini, dia juga curiga dengan pengakuan Jae Joon sebagai seorang malaikat, tapi karena Ha Na membutuhkan pekerjaan, akhirnya dia setuju untuk bekerja dengan Jae Joon.


Seiring waktu Ha Na mulai memahami bagaimana cara kerja Heaven's Postman ini. Mereka harus membaca semua surat yang dikirimkan, lalu menyortir surat mana saja yang kasusnya bisa mereka selesaikan (haha, terjawab sudah apa yang dimaksud dengan 'surga' aka 'heaven' di sini). Tujuannya adalah agar para pengirim surat ini bisa melanjutkan hidupnya dengan hati yang tenang dan lebih bahagia.


Salah satu kasus yang mereka selesaikan adalah ada seorang kakek yang meragukan identitas anaknya karena saat istrinya meninggal, sang kakek tersebut menemukan ada surat cinta dari pria lain yang ditujukan kepada istrinya. Sang kakek hidup penuh kegelisahan karena memikirkan hal tersebut, dan memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya yang telah meninggal. Untuk meringankan beban kakek tersebut, Jae Joon dan Ha Na membuat hasil tes DNA palsu yang menyatakan bahwa sang anak adalah benar anak dari sang kakek tersebut. Tentu saja hasil tes DNA 'palsu' itu dikirimkan dengan sedemikian rupa agar sang kakek tidak curiga, dan sang kakek bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.

Nah, itulah yang dimaksud dengan 'white lie', yakni kebohongan yang dilakukan untuk menjaga perasaan seseorang. Mungkin di antara para penonton nanti akan dilema dengan cara penyelesaian masalah yang dilakukan oleh heaven's postman ini :) Tentu saja cara-cara yang dilakukan Jae Joon dan Ha Na ini akan terus berhasil kecuali jika mereka ketahuan berbohong.


Berbagai kasus dari surat-surat yang dikirim telah berhasil mereka selesaikan, namun masalah mulai bermunculan saat timbul rasa cinta di antara Jae Joon dan Ha Na. Di saat yang sama, Jae Joon mulai merasa tidak nyaman dengan kebohongan yang mereka lakukan, akan tetapi Ha Na tetap yakin jika pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang sangat terpuji. Yang lebih parah lagi, akhirnya ada seorang pengirim surat yang mengetahui bahwa Jae Joon dan Ha Na telah berbohong. Lalu bagaimana nasib pekerjaan Jae Joon dan ha Na setelah mereka ketahuan? Apakah cinta mereka bisa bersatu setelah timbulanya berbagai masalah tersebut? Dan apakah Jae Joon memang seorang malaikat seperti pengakuannya selama ini, ataukah dia hanya manusia biasa? Untuk mencari tahu jawabannya, silakan tonton lanjutan dari film ini ya...


Sebenarnya sih saya nonton film ini karena ada Jae Joong-nya, hehe. Dia adalah ex-member TVXQ dan sekarang tergabung dalam boyband JYJ. Walaupun saya bukan seorang cassie, tapi saya cukup penasaran dengan akting dari cowok cantik ini. Dan karena JYJ juga jarang nongol di acara musik Korea sebangsa Music Bank, Music Core, M!Countdown, Inkigayo, dll kayaknya klo nonton film ini bisa banget mengobati kangen para fans dengan menonton salah satu personil JYJ yang berakting di film ini.


Sayangnya eksekusi cerita film ini memang agak nanggung, saya tidak merasakan kedalaman cerita dari film ini, selain itu eksplorasi akting Jae Joong dan Hyo Jo sepertinya memang masih kurang sehingga terkadang saya kurang merasakan chemistry di antara keduanya. Karena itulah bahkan di saat adegan sedih pun saya sama sekali gak nangis (padahal biasanya saat saya nonton drama atau film Korea saya bisa nangis mewek semewek-meweknya). Ceritanya juga agak nanggung sih, sebenarnya ide cerita film ini sangat bagus tapi eksekusi ceritanya masih kurang dalam. Saya masih berharap film ini bisa menghadirkan klimaks yang lebih daripada apa yang telah disajikan. Untungnya film ini dibintangi Jae Joong, jadi walaupun ceritanya agak nanggung tapi setidaknya nonton Jae Joong aja udah menghibur banget, hehe :) Tapi jangan kuatir, joke-joke di film ini cukup menghibur dan bisa bikin ketawa kok, saya nggak nyangka lho ternyata Jae Joong bisa ngelucu juga.


Sisi positif dari film ini adalah sinematografi-nya yang keren banget. Harus saya akui teknik pengambilan gambar dan lokasi-lokasi shooting di film ini benar-benar memanjakan mata kita. Ada padang rumput hijau dengan kotak pos merah yang sangat kontras dan indah, bahkan baik saat berkabut maupun saat matahari bersinar terang, hasil gambar dari padang rumput ini benar-benar indah bak di negeri dongeng. Ada juga lokasi di mercusuar, di hutan kota, dll yang menurut saya sangat indah. Visual di film ini memang sangat indah. Intinya, film ini adalah film yang sangat ringan ceritanya namun tetap worth watching, apalagi dengan sinematografinya yang patut diacungi jempol. Dan setelah selesai nonton Heaven's Postman ini, kok sepertinya ide cerita film ini mirip dengan ide cerita drama Korea 49 Days ya???



Ehm, so bagi kalian yang sangat menyukai sinematografi film yang keren atau bagi kalian yang ingin melihat akting Jae Joong atau bagi kalian yang ingin membandingkan ide cerita antara 49 Days dengan Heaven's Postman, film ini sangat cocok untuk kalian tonton. Akhirnya, selamat menonton ya...

Sunday, March 13, 2011

MOVIE: Crazy Little Thing Called Love (First Love) / สิ่งเล็กเล็ก ที่เรียกว่า..รัก (2010)


Sumber gambar: acrazylittlethingcalledlove.com

...based on true story of everyone...

Film komedi romantis ini bercerita tentang seorang gadis bernama Nam (Pimchanok Lerwisetpibol), seorang siswi SMP berusia 14 tahun. Kulitnya hitam, berkaca mata, potongan rambutnya sama sekali nggak modis, gaya berpakaiannya 'gak banget', dan dia juga tidak berprestasi di sekolah. Nam berteman dengan tiga orang temannya yang nasibnya juga sama seperti dirinya, anak-anak yang tidak tergolong cantik dan tidak memiliki prestasi.
Diam-diam ternyata Nam, si itik buruk rupa, jatuh cinta pada Shone (Mario Maurer), seniornya di SMU. Shone adalah siswa tampan yang sangat terkenal di sekolah. Shone memiliki bakat fotografi dan masuk tim inti di klub sepak bola sekolah. Dengan keadaan itu, maka akan sangat sulit bagi Nam untuk mendapatkan cinta Shone. Hal tersebut diketahui oleh ketiga teman Nam. Mereka bertiga -dengan berbagai tingkah konyol mereka- berusaha untuk membantu Nam agar berhasil menarik perhatian Shone.
Nam, dengan dibantu oleh ketiga temannya berusaha keras untuk memperoleh perhatian Shone, mulai dari berusaha untuk mengubah penampilannya, menjalani peran sebagai Snow White di drama sekolah, hingga menjadi mayoret. Nam juga berusaha meningkatkan prestasinya hingga menjadi juara pertama di sekolah, tapi sepertinya Shone tidak jua merespon segala usaha yang dilakukan oleh Nam. Yang membuat Nam terkejut adalah justru teman karib Shone-lah yang jatuh cinta pada Nam. Nam semakin putus asa ketika sadar bahwa dia juga semakin jauh dari ketiga temannya yang selalu bersamanya. Nah gimana kelanjutannya ya? Silakan tonton sendiri film yang sangat manis dan simple ini ya...
Kalau boleh saya bilang, cerita film Crazy Little Thing Called Love ini merupakan versi lain dari Bangkok Traffic Love Story (BTLS). Kalau BTLS bercerita tentang perjuangan cinta orang dewasa, nah... kalau Crazy Little Thing Called Love ini bercerita tentang perjuangan cinta para ABG. Tentu keduanya memiliki keunikan yang berbeda, tapi sama-sama mengena dan juga sama-sama film yang manis. Seperti BTLS, film Crazy Little Thing Called Love ini juga sangat konyol, beberapa kali saya dibuat terpingkal-pingkal dengan tingkah bodoh para pemainnya. Bahkan Mario Maurer, si cowok cool itu, beberapa kali membuat saya tertawa dengan tingkah-tingkah konyolnya. Namun, di akhir-akhir cerita, kita akan dibawanya terharu.
Sayangnya, eksekusi film Crazy Little Thing Called Love ini sedikit kurang rapi. Ehm, kalau boleh saya bandingkan (lagi-lagi) dengan Bangkok Traffic Love Story, film BTLS eksekusi ceritanya lebih rapi sehingga penonton disuguhi cerita yang sudah dipersiapkan dengan berjalan mulus TANPA harus berkata 'hah... kok tiba-tiba gini!'. Kalau di film Crazy Little Thing Called Love ini, eksekusi ceritanya kurang rapi. Saya agak kaget dengan beberapa scene di 40% bagian akhir dari cerita ini yang bikin saya berkata 'Hah, kok tiba-tiba gini???' dst deh. Yup, endingnya berasa agak aneh aja, tapi saya tetep suka dengan pengalaman-pengalaman manis ala ABG yang ditampilkan film ini. Salut juga buat tukang make-up film ini... yang bisa ngebikin muka para aktor dan aktris film ini berubah drastis sesuai dengan keperluan cerita film ini.
Ini adalah film Thailand kedua yang saya tonton setelah BTLS. Ternyata film ini sangat manis dan cukup menghibur. Dan emang bener banget klo film ini ...based on true story of everyone... Kalau kalian menonton film ini mungkin sebagian besar kalian akan berkata 'ini film gue banget deh...'
Yap, film ini emang bercerita tentang pengalaman konyol para ABG seperti pura-pura ijin ke toilet hanya untuk melihat sang pujaan hati di kelasnya, menyimpan barang-barang yang berhubungan dengannya, deg-degan ketika berpapasan dengannya, mencuri pandang darinya, dll. Ehm... pokoknya banyak scene-scene manis yang mengingatkan pada pengalaman masa ABG.
Salut banget deh sama para sineas Thailand, mereka selalu berhasil membuat film yang terasa sangat nyata dan bisa langsung dirasakan oleh para penonton seperti jika para penonton tersebut adalah pelaku di film itu (setidaknya hal itu saya lihat di Crazy Little Thing Called Love dan di BTLS).

Akhirnya... selamat menonton ya, dan jangan keseringan senyum-senyum sendiri lho klo lagi nonton film ini. Dua kemungkinan alasan klo kalian emang pada senyum-senyum sendiri, pertama... senyum-senyum karena ada Mario Maurer yang cute banget, kedua... senyum-senyum karena ngerasa bahwa beberapa adegan di film ini emang bener-bener kisah nyata masa ABG kalian :)

Monday, January 17, 2011

MOVIE: The Social Network (2010)


Sumber gambar : digitaltrends.com

Saverin's GF : Why does your status say 'single' on your Facebook page?
Saverin : I was single when I set up the page...
Saverin's GF : And you just never bothered to change it?
Saverin : I...
Saverin's GF : What?!?
Saverin : I don't know how...

Klo inget penggalan dialog di atas (yang klo di dunia nyata terjadi tahun 2004/2005) bikin saya ketawa-ketiwi sendiri. Maksudnya, oh... come on Wardo (Eduardo Saverin), you are ('were'???) the co-founder of Facebook gitu lhoh :) Tapi gak salah juga sih klo dia gak bisa, mungkin emang belum terbiasa aja. Saya dulu waktu pertama pake Facebook (tahun 2007 or 2008 gitu) juga gak bisa cara mengubahnya kok, tapi klo saya sih emang karena gaptek, hehe.

The Social Network bercerita tentang Mark Zuckerberg, si geek yang antisosial dan jenius, si penemu Facebook. Film yang didasari oleh buku The Accidental Billionaires karya Ben Mezrich ini memang tidak memperoleh keabsahan dari Mark Zuckerberg yang menyatakan apa yang ada dalam buku dan film tersebut hanyalah fiksi belaka, selain itu Sean Parker juga menyatakan bahwa Sean Parker dalam film ini bukanlah dirnya yang sebenarnya. Mendengar gosip-gosip seperti itu awalnya saya jadi meng-underestimate film ini, tapi pikiran saya langsung berubah 180 derajat setelah menonton film ini. Film ini sangat seru!!! Sang sutradara dan sang penulis naskah berhasil membawa kita terus berkonsentrasi pada layar serta meyelami dialog-dialog cepat dan cerdas dalam film ini. Like This! deh pokonya.


Film ini diawali dengan dialog antara Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg) dan kekasihnya Erica Albright (Roney Mara). Dialog yang cepat membuat kita harus langsung berkonsentrasi pada kata-kata diucapkan oleh Zuck, ohh he looks so genius. Akibat dialog inilah akhirnya sang kekasih memutuskan hubungan dengan Zuck. Karena kesal telah diputuskan, Mark dan teman-teman sekamarnya membuat situs Facemash yang berusaha me-ranking wajah mahasiswi-mahasiswi yang paling disukai/ diberi nilai tinggi oleh pengunjung situs. Untuk bisa mewujudkan situs ini, Zuck membutuhkan formula algoritma dari teman baiknya Eduardo saverin (Andrew Garfield).


Kemunculan Facemash membawa kehebohan di kalangan mahasiswa berbagai kampus, karena terlalu banyak yang mengakses, maka dalam seketika jaringan server web Universitas Harvard down. Akibatnya Zuck terpaksa harus berurusan dengan bidang administrasi kampus yang akhirnya memberinya hukuman.


Kepopuleran Zuck akibat Facemash membawa Cameroon dan Tyler Winklevoss (Armie Hammer) serta Divya Narendra (Max Minghella), senior Zuck di Harvard, mengajaknya untuk membuat situs jejaring sosial semacam Friendster atau pun Myspace yang dikhususkan untuk mahasiswa Harvard saja. Berawal dari ide ini, akhirnya Zuck membuat situs Thefacebook yang didanai oleh teman baiknya, Saverin, yang sekaligus menjadi co-founder situs ini. Situs jejaring sosial ini akhirnya berekspansi ke berbagai kampus dan akhirnya berubah menjadi Facebook (tanpa 'the') berkat campur tangan Sean Parker (Justin Timberlake), si pendiri Napster.

Facebook lalu menjadi situs yang langsung digemari oleh banyak mahasiswa di berbagai kampus, ketenaran Facebook akhirnya didengar oleh Winklevoss dan Divya Narendra. Hal ini mebuat mereka sangat marah karena merasa kalau Zuck telah mengkhianati dan mencuri ide mereka. Akhirnya cerita tentang pertemanan ini semakin seru karena juga dibumbui dengan berbagai kasus hukum yang menimpa Zuck, tuntutan dari Winklevoss bersaudara, bahkan tuntutan dari sahabat terbaik Zuck, Eduardo Saverin.



Apa yang dilakukan Zuck kepada Saverin sehingga sang sahabat menuntutnya? Lalu apakah ketenaran Facebook bisa memenuhi ambisi Zuck untuk menunjukkan kehebatannya terhadap bekas pacarnya? Dan bagaimana sikap Zuck dalam menghadapi tuntutan dari teman-temannya? Apakah dia memang sebrengsek itu hingga banyak orang yang menuntut dan membencinya? Silakan tonton karya film yang sangat jenius ini.

Ceritanya yang dibuat maju mundur (flash back) ini menyebabkan film ini menjadi sangat intens dan tidak membosankan. Saya sangat menyukai akting Jesse Eisenberg yang berusaha untuk memerankan karakter Zuck yang jenius tapi tetep naif. Walaupun terkesan sombong dan cuek, tapi dari dialog-dialog dan cara ngomongnya yang cepet banget, dia terlihat sangat jenius.Tapi klo lihat di Youtube, Zuckerberg yang asli tuh terlihat lebih mudah gugup deh kalau diinterview. Dan film fiksi ini kelihatannya juga lebih menguntungkan karakter Eduardo Saverin yang memperlihatkan kecerdasannya sebagai mahasiswa economics dan rasa kesetiakawannya terhadap Zuckerberg. Saya jadi gak sabar nunggu Andrew Garfield main di Spiderman deh.


Kalau saya boleh membandingkan antara Wall Street dan The Social Network, Wall Street lebih merupakan proyek aji mumpung yang memanfaatkan kehebohan krisis finansial 2008, tapi kurang berhasil dalam mengeksplor kedalaman tema-tema dalam film tersebut. Berbeda dengan Wall Street, saya menganggap The Social Network merupakan proyek aji mumpung yang memanfaatkan ketenaran Facebook tapi tetap berhasil menjaga fokus ceritanya dan menjadikan film ini sebagai salah satu film terbaik di tahun 2010.

Bagi kalian yang addicted maupun yang anti sama Facebook, semuanya tetep bisa menikmati film ini, karena film ini bukan semata-mata tentang Facebook saja, tapi lebih merupakan film tentang persahabatan dan ambisi, bagaimana perkembangan Facebook menjadi pengganggu persahabatan di antar para tokoh di film ini. Walaupun The Social network tidak memperoleh keabsahan dari pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, tapi film ini tetap sangat terasa nyata dan sangat dekat dengan kehidupan kita. Dan walaupun Zuck menolak untuk menonton film ini karena lebih merupakan film fiksi, tapi what the zuck lah Mark, I 'like this!' movie a lot aniway. Dan thank's buat Mark Zuckerberg yang sudah menciptakan dan memperjuangkan Facebook untuk kita semua :)

Film ini memang dianggap sebagai film fiksi. Tapi jika memang beberapa karakter di film ini tidak sepenuhnya fiksi, saya harus akui: gila!!!!! anak Harvard emang pinter-pinter dan jenius. Si Mark Zuckerberg, dia nerd yang jenius, yang kadang kalau lagi ngomong, kita gak bisa ngebedain topik mana yang sedang dia bicarakan, bahkan saat dia mabuk pun dia tetep lancar nge-hack situs-situs di kampusnya. Saverin, mahasiswa Economics yang jago Matematika, dia juga sangat setia kawan. Si kembar Winklevoss, mereka atlit dayung yang harus latihan keras tiap hari, tapi teteuuup.... IP-nya 3,9 ...ck ck ck...

MOVIE: WALL STREET Money Never Sleeps (2010)

Sumber gambar: azreporter.com

Jacob Moore : Louis, are we going under?
Louis Zabel : You're asking the wrong question Jacob.
Jacob Moore : What's the right question?
Louis Zabel : "Who isn't?"

Ehmm, bener juga kata Lou (Louis Zabel) ya... siapa sih yang gak susah gara-gara krisis finansial tahun 2008 yang lalu? Hampir seluruh masyarakat di Amerika Serikat terimbas krisis dahsyat ini, mulai dari orang kaya raya yang nilai asetnya pada anjlok besar-besaran, hingga para buruh dan pekerja yang harus terkena PHK. Begitu juga dengan beberapa negara lainnya yang turut terkena imbas krisis ini. Tapi untungnya kita-kita yang di Indonesia tidak terlalu merasakan krisis tersebut ya. Walaupun Indonesia sebenernya juga sedikit kecipratan krisis ini, tapi gak terlalu parah sih. Anyway btw busway, itu kan udah tahun 2008 yang lalu, for now, let's just talk about Wall Street in the movie :)

Wall Street: Money Never Sleeps merupakan sekuel dari Film Wall Street yang dirilis tahun 1987. Dengan masih mempertahankan karakter Gekko yang dahulu juga diperankan oleh Michael Douglas, film ini berusaha mengangkat banyak tema seperti balas dendam, persaingan bisnis, kisah cinta, dan keluarga. Wuihh, banyak banget tema-nya ya...


Film ini bercerita tentang Jacob Moore (Shia LaBeouf), seorang stock broker di perusahaan bank investasi Keller Zabel. Jacob berusaha menyelidiki dan membalas dendam atas kejatuhan perusahaan tempat bekerjanya tersebut sebab kebangkrutan Keller Zabel juga turut merenggut nyawa mentornya sekaligus bos dari Keller Zabel yakni Louis Zabel. Dalam usahanya membalas dendam, Jacob dibantu oleh Gekko yang juga merupakan ayah dari Winnie (Carey Mulligan), pacar Jacob.

Akankah Jacob berhasil mengungkap misteri di balik kebangkrutan Keller Zabel? dan apakah bantuan si licik Gekko kepada Jacob diberikan secara cuma-cuma? Ataukah Geko juga mencoba memanfaatkan Jacob? Lalu bagaimana keberlangsungan hubungan antara Jacob dan Winnie setelah kedatangan Gekko mengingat Winnie sangat membenci ayahnya itu? Ehm, kelanjutannya silakan tonton sendiri ya


Awalnya, judul Wall Street (Money Never Sleeps), pencatutan peristiwa krisis global, serta penggunaan istilah-istilah ekonomi yang agak ribet sepertinya akan menjanjikan cerita yang penuh intrik serta pembahasan mendalam mengenai dunia bisnis. Namun, ternyata usaha untuk mengangkat terlalu banyak tema malah menjadi boomerang bagi film ini, akibatnya tema-tema tersebut seperti hanya dibahas setengah-setengah a.k.a nanggung man!!!


Walupun Oliver Stone terkesan kurang berhasil dalam mengeksekusi kedalaman cerita di film ini,tapi untung masih ada Michael Douglas yang kembali berperan sebagai Gekko. Yap, karakter Gekko benar-benar berhasil menyelamatkan film ini, kharismanya itu lho... Walau saya sebel sama karakternya yang menghalalkan segala cara (termasuk mengorbankan keluarganya) demi memenuhi ambisisnya tapi saya kagum banget dengan kejeniusannya dalam memprediksi terjadinya krisis global 2008 yang diakibatkan oleh spekulasi dan ketamakan manusia. Selain itu, di saat banyak para pelaku pasar yang menderita kerugian besar-besaran akibat anjloknya harga saham, Gekko malah berhasil memperoleh keuntungan yang sangat besar. Buktinya, dengan hanya bermodal 100 juta US$, dalam waktu singkat Gekko berhasil mengubah modal tersebut menjadi lebih dari 1 Milyar US$.

Nah, kalo pengen melihat kuatnya kharisma Michael Douglas serta transformasi akting bintang Transformers, Shia LaBeouf, silakan tonton film ini...

Tuesday, November 30, 2010

Movie: Four Lions (2010)

Sumber gambar: heyuguys.co.uk
Four Lions, film apakah ini? Apakah film ini ada hubungannya dengan Tim Sepak Bola Inggris, The Three Lions yang ketambahan satu singa lagi? Ternyata tidak sama sekali... Film ini adalah sebuah film mengenai empat orang pemuda muslim Inggris yang memiliki fanatisme sempit, serta kurang berpengetahuan mengenai Islam itu sendiri, tapi mereka punya semangat yang menggebu-gebu untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.

Lalu, apakah film ini adalah film tentang terorisme yang menyeramkan dan mengerikan? Jawabannya adalah TIDAK sama sekali, film ini justru sangat lucu hingga mampu membuat saya terpingkal-pingkal pada hampir seluruh durasi film. Kelucuan tersebut muncul akibat tingkah-tingkah bodoh (bahkan kelewat bodoh) dan dialog-dialog yang dilakukan oleh para pemeran utamanya.



Awalnya saya agak ragu juga untuk menonton film ini, saya kira film ini akan cenderung menjelek-jelekan Islam, maklumlah... saya juga seorang muslim yang gak seneng klo keyakinan saya dijelek-jelekan. Tapi setelah saya nonton film ini, semua perkiraan saya itu SALAH. Film ini justru memberikan gambaran bagi saya mengenai bagaimana orang non-muslim (khususnya penulis naskah dan director dari film ini) memandang Islam. Dan sepertinya film ini juga berusaha untuk menyentil segelintir kaum muslim yang memiliki pandangan sempit mengenai ajaran Islam, yang karena fanatisme sempit dari segelintir orang itulah yang menyebabkan seluruh umat muslim di dunia kena getahnya.


Film ini saya rasakan cukup fair dalam menyindir realitas yang berkembang dengan masyarakat saat ini, misalnya menyindir segelintir orang yang melakukan teror, menyindir pemerintah yang kadang salah menangkap pelaku teror dan menggunakan prosedur yang berbelit-belit, menyindir kalangan masyarakat yang seringkali menilai teroris hanya dengan ciri-ciri fisik, dsb.


Cerita ini berawal dari empat sekawan yakni Omar (Riz Ahmed), Barry (Nigel Lindsay), Waj (Kayvan Novak), dan Faisal (Adeel Akhtar) yang kesemuanya bercita-cita untuk melakukan bom bunuh diri atas dasar keyakinannya. Omar adalah seoarang pria berkeluarga dengan seorang anak. Omar adalah pemimpin gank ini, dia yang menentukan apa-apa saja rencana yang akan dilakukan. Wajahnya terlihat lebih pintar dibanding yang lain, tapi kadang dia melakukan hal-hal yang bodoh juga.



Barry adalah pria muslim kulit putih yang punya rencana untuk mengebom masjid untuk membangkitkan semangat jihad Islam. Waj adalah pria tolol yang tidak mengerti cara menentukan arah kiblat. Dia berpikir bahwa kiblat sholat adalah mengarah ke arah timur (kalau di Inggris arah kiblat memang mengarah ke Timur) dan saat dia sedang berada di trainning camp di Pakistan, dia bersikukuh untuk tetap sholat ke arah timur. Padahal kalau di Pakistan, kiblat sholat adalah di Barat (Ka'bah berada di arah barat dari Pakistan). Faisal adalah pria tolol berikutnya. Dia memiliki jenggot yang tebal tapi dia mengaku pada Barry bahwa dia pernah berpura-pura menjadi perempuan saat membeli hair bleach dalam jumlah yang besar. Faisal juga-lah yang berbicara dan melatih gagak untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.



Untuk mencapai tujuan untuk melakukan tindak terorisme tersebut, Omar dan Waj pergi ke camp pelatihan di Pakistan untuk mendapat pelatihan menjadi mujahidin. Alih-alih memperoleh ketrampilan militer, mereka berdua malah mengacaukan camp pelatihan tersebut dengan berbagai kebodohan yang mereka lakukan. Akibatnya keduanya diusir tanpa memeroleh apa-apa. Setelah pulang kembali ke Inggris, mereka berdua mendapati bahwa Barry telah merekrut Hassan, seorang rapper yang juga memiliki keinginan yang sama dengan mereka. Tapi Hassan juga sama tolonya dengan keempat pria tersebut.



Satu penggalan lagu yang dinyanyikan oleh Hassan yang sangat saya ingat adalah sbb:
... We're the muslimin, we're making terrible scenes
Now you wanna know what the boom boom means ...

Untuk menutupi kegagalan mereka berdua dalam berlatih di Pakistan, Omar terpaksa berbohong pada Barry dan Faisal, Omar juga-lah yang merencanakan teror bom bunuh diri pada suatu even lari marathon. Kebohongan tersebut hanyalah untuk menjaga gengsi dan ambisi pribadi Omar. Dari kebohongan inilah akhirnya mereka benar-benar berusaha untuk merealisasikan tindakan bom bunuh diri tersebut.

Pada hari H, yakni hari eksekusi bom bunuh diri, pada saat inilah penonton tak hanya disuguhi adegan-adegan yang membuat terpingkal-pingkal, tapi beberapa kali penonton juga diajak untuk turut merasakan haru atas apa yang terjadi. Pada saat inilah terungkap bahwa sebenarnya mereka tidak benar-benar yakin akan keputusan melakukan bom bunuh diri. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Untuk mengetahui ending-nya, silakan tonton sendiri ya, ending-nya sendiri cukup memberikan kejutan untuk saya, karena saya tidak menyangka jika semua akan berakhir seperti itu.


Film ini harus ditonton, karena sangat amat lucu sekali, namun, di balik kelucuan tersebut juga tersirat pesan atau nilai-nilai tertentu. Akhirnya... selamat menonton dan peace bro!!!




Berikut trailer-nya
Related Posts with Thumbnails